- Tujuan penulisan ini semata-mata ingin mencari informasi nama-nama ompung penulis di generasi ke-8, 9, 10, 11, dengan harapan ada sanina/dongan sabutuha, ompung, bapatua/bapauda, inangtua/inanguda, maupun amangboru/makkela/namboru yang memiliki informasi yang terkait dengan tarombo yang terputus ini.
- Tulisan ini bukan merupakan dokumen resmi dari PPTSB (Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Boru/Bere) dan oleh karenanya kesalahan penulisan nama merupakan kekeliruan penulis semata dan terbuka untuk direvisi.
- Tulisan ini focus kepada nama-nama ompung saya secara garis lurus dan tidak menulis secara detail tarombo dari ompung yang lain.
- Penulisan dengan huruf tebal merupakan pembedaan mana yang ompung saya garis lurus dan mana yang tidak.
- Informasi bahwa penulis adalah generasi ke-17 merupakan informasi langsung yang saya dengar dari mendiang bapak saya sendiri, tidak ada dokumen tertulis yang menyatakan kebenaran informasi tersebut, dan penulis yakin bahwa dari masing-masing generasi bertanggungjawab untuk menyampaikan informasi tingkatan generasi tersebut ke anak-anaknya.
- Referensi bahan tulisan ini berasal dari berbagai sumber melalui akses internet dan juga informasi lisan dari saudara-saudara sepupu saya..
========================++++++++++++++++++=====================
Sekilas yang bisa digambarkan penulis tentang tarombo mulai dari Op. Toga Sinaga sampai kepada saya sendiri sebagai berikut :
Generasi ke-1
Nenek moyang keturunan marga Sinaga adalah Op. Toga Sinaga, anak dari Raja Lontung
Generasi ke-2
Toga Sinaga memiliki 3 (tiga) orang anak laki-laki masing-masing bernama (urut mulai dari yang sulung); Op. Bonor, Op. Ratus, dan Op. Uruk. Ketiganya dikenal dengan gelar Si Tolu Ompu.
Generasi ke-3
Baik Op. Bonor, Op. Ratus, dan Op. Uruk masing-masing memiliki 3 (tiga) orang anak laki-laki dan anak dari Op. Bonor berturut-turut adalah ; Op. Pande, Op. Tiang Nitonga, dan Op. Suhut Nihuta. Kesembilan ompu ini dikenal dengan gelar Si Sia Ama.
Generasi ke-4
Op. Suhut Nihuta memiliki 4 (empat) orang anak laki-laki berturut-turut ; Op. Nasumandar, Op. Nahumutur, Op. Sibaliot, dan Op. Sorak Maunok.
Generasi ke-5
Op. Sorak Maunok memiliki seorang anak bernama Op. Suhut Maraja .
Generasi ke-6
Op. Suhut Maraja dari istri br. Sihotang memiliki 2 (dua) orang anak yaitu ; Op. Sidasuhut dan Op. Sidallogan. Dari istri br. Manurung juga memiliki 2 (dua) orang anak yaitu Op. Simaibang dan Op. Simandalahi.
Generasi ke-7
Op. Sidasuhut memiliki 3 (tiga) orang anak yaitu Op. Sidomdom, Op. Hasangapon, dan Op. Mardoli-doli. Op. Mardoli-doli dari huta Panahatan/Sibaganding (dekat Parapat) pergi menyeberang danau naik sampan ke Simanindo pulau Samosir dan membuka huta baru dengan nama huta Sihalapit.
Keturunan dari Op. Mardoli-doli kemudian menyebar ke pesisir pantai di seberang danau yang sekarang dikenal dengan nama huta/nagori Haranggaol, Salbe, Tigaras, Tambun Raya dan huta/nagori lainnya, kemungkinan termasuk nagori Sirungkungan.
Generasi ke-8
Data tidak jelas dan masih ditelusuri
Generasi ke-9
Data tidak jelas dan masih ditelusuri
Generasi ke-10
Data tidak jelas dan masih ditelusuri.
Generasi ke-11
Data tidak jelas dan masih ditelusuri.
Generasi ke-12
Salah seorang yang diduga kuat merupakan keturunan langsung dari Op. Mardoli-doli yang menyeberang ke nagori Sirungkungan adalah Op. ………….. . Setelah meninggal ompung ini dimakamkan di Tuktuk, sebutan orang nagori Sirungkungan untuk salah satu pulau kecil di pesisir pantai nagori Sirungkungan.
Generasi ke-13
Op. …… memiliki 2 (dua) orang anak bernama Op. Taligung Mas (tinggal di nagori Sibunga2) dan Op. Sindarmataniari (tinggal di nagori Sirungkungan). Setelah meninggal, Op. Sindarmataniari dimakamkan di Simanindo.
Generasi ke-14
Op. Sindarmataniari memiliki 3 (tiga) orang anak yaitu ; Op. Jaliman, Op. Nagahuta, dan Op. Riam. Setelah meninggal, Op. Riam dimakamkan di Dolok Simarleo-leo di nagori Sirungkungan.
Generasi ke-15
Op. Riam dari istri br. Sitio memiliki 2 (dua) orang anak yaitu ; Op. Tami, dan Op. Bosar, sementara dari istri br. Simanihuruk memiliki 3 (tiga) orang anak yaitu ; Op. Jaupar, Op. Jadohot, dan Op. Jongis. Setelah meninggal, Op. Tami dimakamkan di nagori Sirungkungan.
Generasi ke-16
Op. Tami dari istri bernama Horaino br. Purba Pakpak memiliki 5 (lima) anak laki-laki yaitu ; bapatua Jarokok, bapatua R. Brental, bapatua Kaliamsa, R. Patik (bapak penulis), dan bapa uda Maluddin serta seorang boru yaitu namboru Rambunim. Setelah meninggal bapak penulis, R. Patik dimakamkan di Parapat.
Generasi ke-17
Bpk. R. Patik menikah dengan G. Br. Simarmata memiliki 3 (tiga) anak laki-laki dan 2 (dua) boru. Saya, Antonius Sinaga adalah sulung dari 5 (bersaudara).
Apabila disusun menurut hirarki/generasi adalah :
- Op. Toga Sinaga
- Op. Bonor
- Op. Suhut Ni Huta
- Op. Sorak Maunok
- Op. Suhut Maraja
- Op. Sidasuhut
- Op. Mardoli-doli
- …..
- ….
- ….
- ….
- Op. Na di tuktuk
- Op. Sindarmataniari
- Op. Riam
- Op. Tami
- Op. Andre (R.Patik Sinaga)
- Antonius
Adakah saudara dari Op. Na di Tuktuk dan siapa nama orangtuanya ? dst……..
HORAS !!!


“Bapak pendukung Protap ya ?” tanya seorang teman kepada saya pada suatu kesempatan ngobrol di dalam rumah. Ya namanya ngobrol bisa membahas apa saja termasuk isu-isu yang sedang hangat diberitakan di massmedia, salah satunya tentang demo berujung maut di kantor DPRD Sumut di Medan. Berita tentang demo maut di DPRD Sumut itu memang lagi hangat-hangatnya diulas di massmedia baik cetak maupun TV.
Ketika terbetik kabar bahwa tugu pesawat kebanggaan Pekanbaru yg terletak di bundaran jalan di depan gubernuran akan diganti dengan tugu yang lain, saya malah jadi sering mengamatinya kalau pas lewat jalan tersebut. Seolah-olah enggan berpisah setelah sekian tahun dan hampir setiap hari selalu berpapasan dengan tugu tersebut. Bahkan dalam sehari bisa empat, lima kali. Begitu seringnya sampai akhirnya kalau sedang lewat malah sering tidak dilihat lagi, dilirik juga nggak.
