Golf Lebih Asyik Dari Sepakbola
Ditulis oleh anzoes di/pada Agustus 12, 2008
Golf lebih asyik dari sepakbola memang benar, minimal bagi saya pribadi. Sepakbola cuma menang capeknya saja, asyiknya sudah hampir nggak ada. Bagaimana mau asyik main sepakbola, umur sudah lebih 45 tahun, badan kegemukan dikit. Main 15 menit saja pasti ngos-ngosan deh. Dan dijamin besok pagi bangun tidur badan pegal-pegal dan pangkal paha terasa seperti kejang, ampun deh.
Jadi rekans blogger jangan antipati dulu dengan keasyikan saya dengan golf. Saya penggemar berat sepakbola. Masa kecil saya hampir tiap hari diisi dengan bermain bola kaki di halaman rumah, di jalan raya, di halaman sekolah dan dimana saja kalau ada tanah lapang yang relatif cukup untuk bermain bola. Biasanya tanah kosong seukuran lapangan volley sudah cukup untuk bermain bola kaki 5 lawan 5. Bolanya bola plastik saja. Sehari tidak kumpul bersama teman bermain bola rasanya ada yang kurang. Pulang sekolah bukannya langsung ke rumah tapi main bola dulu sampai seragam sekolah belepotan, puas main dan perut terasa lapar baru mikir pulang ke rumah dan giliran sampai di rumah baru dimarahi sama ibu. Sudah rutin sampai saya tamat SMP. Masuk SMA saya mulai kost di kota lain dan sekali-sekali masih main bola dengan teman kost masih di depan rumah, di jalan raya dan di halaman sekolah ynag tidak jauh dari tempat kost. Masuk kuliah intensitas bermain bola mulai berkurang dan boleh dikatakan jarang bermain bola lagi.
Semasa kecil saya tidak pernah berfikir bahwa saya nantinya akan belajar bermain golf sesudah dewasa. Memang di dekat rumah saya di Parapat ada lapangan golf yang saya tidak pernah masuk ke area lapangannya dan tidak pernah melihat bagaimana cara bermain golf. Pernah saya ketemu bola kecil warna putih, berat dan mantul-mantul malah saya ambil pisau dan kuliti sampai habis karena rasa ingin tahu koq mantul-mantulnya liar banget. Nah, ini yang disebut bola golf. Di dalamnya ada bola kecil seukuran kelereng dan dililiti karet berbentuk tali kemudian dibungkus, pantas bolanya punya daya pantul yang kuat.
Saya belajar golf pertama kali usia 37 tahun, di driving range Korem dekat rumah di Pematangsiantar, tidak sampai 1 km dari rumah. Ini juga karena “himbauan” dari atasan agar belajar golf, mumpung sedang bertugas di kota kecil dimana biaya bermain golf tidak semahal di kota besar. Belajarnya pakai stick teman ramai-ramai pulang kantor masih pakai sepatu kantor, enjoy saja. Latihan sore tidak puas karena waktunya sempit, saya sambung lagi hari Sabtu pagi. Koq asyik ya !! Bola kecil yang pernah saya kuliti ini bisa melayang jauh, bisa lurus, belok kiri atau belok kanan. Yang namanya belajar, bola yang dipukul kadang masih di tempat tapi yang melayang jauh adalah tanah, sialan. Satu per satu teman mundur dari latihan mungkin karena tidak cocok, tidak ada chemistry dan tinggallah saya berdua dengan teman yang tetap rutin dan konsisten berlatih dan berlatih. Lumayan ada sparring partner. Setelah pelatih merekomendasikan sudah bisa berlatih dan bermain di lapangan yang sebenarnya, malah saya bingung karena stik golf belum punya. Bingung tidak perlu lama-lama karena akhir pekan saya bersama keluarga liburan ke Medan sekalian saya cari stik golf di toko golf daerah Kesawan. “Yang harga termurah,” pesan saya kepada penjaga toko golf. Sudah harga termurah saya masih sedikit memaksa dapat bonus bola golf, topi tidak perlu beli karena ada beberapa topi di rumah. Sepatu golf ? Nah, kembali pesan ke penjaga toko “Yang murah-murah saja”.
Dengan stik baru maka kegilaan bermain golf pun dimulai, setiap hari Sabtu dipastikan ada di lapangan golf Bah Jambi PTP IV. Ini lapangan golf yang terdekat dari rumah berjarak kira-kira 13 km. Skill makin baik dan temanpun bertambah. Turnamen pun menjadi langganan. Stik beberapa kali patah, apakah karena swingnya nggak tepat sasaran menghantam tanah, batu, akar pohon atau memang kualitas stik nya yang jelek karena harga yang murah. Patah, sambung lagi, ada orang yang punya keahlian dan siap menyambung stik patah. Lima tahun saya belajar dan bermain golf di kota Pematangsiantar kemudian oleh perusahaan saya di mutasi ke Pekanbaru-Riau. Di kota ini malah lapangan golf lebih banyak dari Pematangsiantar. Hobby tetap hobby tidak bisa dikekang tapi intensitas berkurang. Faktor klasik, biaya. Di Pematangsiantar dengan green fee cuma Rp. 10.000 dan caddy tips Rp. 50.000 sudah puas bermain 18 holes. Di Pekanbaru termurah green fee Rp. 100.000 dan caddy tips Rp. 100.000 untuk 18 holes. Tapi lapangannya kurang bagus dan keras. Lapangan satu lagi kalau weekend green fee hampir Rp. 300.000 plus caddy tip Rp. 100.000. Yang paling bagus dan terbaru untuk weekend green fee hampir Rp. 500.000. Ada rasa terkejut, tapi sama sekali belum bisa menghapus keasyikan bermain golf. Kalau di Pematangsiantar bermain tiap akhir pekan, maka di Pekanbaru cukuplah main 1 – 2 kali sebulan. Masih ditambah dengan mengikuti beberapa turnamen.
Trus, apa asyiknya bermain golf ?
Wah, asyik banget. Lapangannya saja sudah enak dilihat, hamparan rumput hijau yang tertata rapi dan tentu saja dengan taman yang tertata rapi juga. Selain olahraga yang menyehatkan, dengan golf saya bisa memiliki teman dari segala lapisan masyarakat dan profesi. Di samping itu, olahraga golf merupakan olahraga yang sulit karena melawan diri sendiri. Dengan bermain golf bisa melatih kesabaran dalam diri, tanpa rasa sabar tidak akan berhasil menguasai teknik-teknik permainan. Bermain golf butuh strategi, bagaimana kita mampu menghindari rintangan atau hazards seperti sungai, danau dan bunkers yang merupakan suatu cekungan berisi pasir. Dan itu pun tidak terlepas dari kecermatan dan kejelian. Ada kepuasan tersendiri apabila stik yang kita pilih untuk memukul bola merupakan pilihan yang benar karena jarak dan arah pukulan sesuai yang diharapkan. Wuihh…..puas banget.
Ini sangat penting dalam bermain golf, kita harus menentukan target dan arah pukulan kita sebelum memukul bola, dengan kata lain kita menentukan target titik imajiner dalam benak kita. Setelah titik imejiner ditentukan selanjutnya kita memilih stik yang kita pergunakan untuk mencapai titik tersebut. Menjamin pukulan kita bisa mencapai jarak tertentu dan arah yang kita harapkan tidak semudah yang dibayangkan. Butuh latihan dan latihan.
Segar, sehat dan fun. Sehabis bermain golf selama sekitar 4 – 5 jam dan mengitari lapangan sejauh kira-kira 8 – 10 km masih sanggup mengikuti kegiatan-kegiatan lain seperti menghadiri undangan pesta atau sekedar jalan-jalan ke mall bersama keluarga. Dibandingkan dengan habis bermain futsal 20 menit tapi capeknya luar biasa dan badan pegal-pegal dan mungkin ada yang kram dan sakit. Di usia di atas 45-an rasanya kenikmatan bermain bola cukuplah diganti menonton bola saja, toh banyak siaran live liga-liga dunia di saluran TV.
Main golf memang lebih asyik dari sepakbola, bagi saya.
Bagaimana dengan anda ?
anz.
Eko Muniarto/641552 berkata
Memang asyik ! but boeat siapa?
bagi rekans yg pendapatan dan hubungannya terbatas tentu akan sangat berat.
ok lah green fee dpt terjangkau, lain-lainnya?
bagi saya peribadi ( off-1 ) blm terbayang utk itu.
yang pasti (pribadi), oleh raga yang paling Assyik, murah dan lebih sehat yakni “Joging” atau ‘ jalan santai’.
dmk.
madzz berkata
salam kenal
edi warsito berkata
Lae Anton, bener 100% itu. Main golf itu gak bisa dibandingkan dengan apapun lho. Bahkan menurut saya itu merupakan olahraga yang sekaligus bisa membuat para pemainnya ber-muasabah di setiap akhir hole yang telah dilewatinya………Pokoke TEOPE BEGETE……..
Tapi gak usah MAIN ISI, KRING2an kan?
edw
http://edi-war.blogspot.com
anzoes berkata
Iyalah pak. Kalau lagi main gimana gitu, lupa semua problem hehehehe………….
herman setiawan berkata
semua permainan itu asyik menurut orang yg suka melakukannya,namanya aja permainan.
bekicotrasta berkata
Salam kenal, Bang Anz.
Kebetulan aku juga baru belajar2 nih Bang.
Eniwe, rencananya nanti liburan akhir tahun aku bakalan mudik ke pekanbaru nih. Kalau berkenan, mungkin kita bisa maen bareng? Itung2 yang senior bagi2 ilmu ke pemula ini. Gimana?
anzoes berkata
Cocok jugalah belajar golf sama saya yg handicap 2 ini. Pertama nggak beres pukul jauh dan kedua nggak bisa pukul lurus. Ngobrol-ngobrol aja kita nanti. Klo sampai di Pekanbaru silahkan kontak anzoes@plasa.com.
ken.rinaldo berkata
selamat siang. saya kebetulan akan ada rencana dinas di Jambi. apakah di jambi ada lapangan golf ?? mungkin teman-teman bisa sharing informasi.
Thank you
anzoes berkata
Sepertinya nggak ada, tapi belum pasti. Soalnya belum pernah ke Jambi sih… Coba saja kontak temannya yg ada di Jambi
Indra berkata
hello mas,
Saya seperti nya hampir sama ma mas (tp umur msh 32 thn) yg pertama2 golf 1 blnan ini masih pake baju kantor dan stik pinjem temen….awal nya buat happy2, tapi setelah di tela’ah ternyata main golf itu susah juga and mesti telaten ga boleh grabak grubuk kayak main bola……alias mesti tenang….
Anw, saya mau beli stick golf nih…waktu itu mas beli lsg beli tanpa liat spesifikasi nya aja? yg penting murah…betul ga? terus kl pake stick murah (mohon maaf) suka di ejek or di pandang remeh ga sih mas? kok saya malah takut nya olah raga golf jatuh nya ke gengsi2an……..pdhl kita mau olah raga bener…..
okey deh segini dulu….di reply ke baksos@yahoo.com yaa mas….trimsss
Indra
anzoes berkata
Kebetulan saya bukan orang type brand minded. Saya bermain golf juga sepertinya tidak ngeh dengan merk stick, sepatu atau baju yang dipakai orang lain. Saya juga merasa orang lain tdk peduli dengan apa yang saya pakai. Jadinya enjoy saja. lagian tdk semua pemain golf apalagi pemula tahu mana yg murah mana yang mahal. Dengan stick murah juga saya bisa dapat beberapa trophy turnamen koq. Sekarang stick murah itu sudah saya ganti karena berpatahan (sdh pakai 5 tahun) dan beli yang lebih bagus, tapi murah karena barang second. Kali ini kebetulan merk nya terkenal. tapi saya tertarik pakainya daripada merk nya koq.
Ok, pengalaman dgn stick murah saya belum pernah diejek. Wong swingnya bagus koq diejek…hehehehe
Indra berkata
hehhe….percaya sih kl mas swing nya bagus…lah wong sering latihan hehehhe…anw saya setuju ma pendpt ente…saya juga ga peduli kl orang lain mau pake apa…krn sy suka denger dari bbrp teman kl pas turun suka ada yg banding2in merk…..tp saya percaya banget…biar mau pake stick “kayu” kl swing nya bagus juga orang salute…..hehehhe
Okey kl gitu saya pake ho*ma aja deh biar swing nya bagus……..wkkwkw j/k (itu mah nama nya stick muaaahhhaallll) :p
Trims loh dah sharing…..