Ini Medan, bung !
Ditulis oleh anzoes di/pada Agustus 22, 2008
Jargon “Ini Medan, bung” pertama kali muncul pada tahun 1965, jaman masih “berbau” kolonial, jaman dimana potensi otot masih sangat dibutuhkan. Munculnya jargon ini untuk menunjukkan bahwa orang Medan itu lebih hebat dari orang lain, lebih kuat dari orang lain, lebih berotot dari orang lain. Pokoknya orang Medan itu tidak mau dianggap enteng, anda jual saya beli—itu prinsipnya. Yang disebut orang Medan adalah penduduk Medan yang multi etnik yang terdiri dari etnik Jawa, Batak, Cina, Melayu, Minang, Aceh, Sunda, India, dan lain-lain.
Seiring dengan perjalanan waktu taraf pendidikan penduduk semakin tinggi dan ketangguhan fisik secara perlahan-lahan diganti dengan otak atau akal pikiran. Jargon “Ini Medan, bung” pun memiliki multi makna dan pesan sesuai dengan profesi atau identitas. Preman memiliki makna dan pesan yang lugas sebagaimana preman pada umumnya masih dominan menggunakan otot, “Ini Medan, bung. Jangan macam-macam kalau mau selamat”. Kalangan pebisnis juga memiliki makna dan pesan yang cukup jelas, “Ini Medan, bung. Mau untung atau mau rugi ?” Pemain bola juga punya makna tersendiri, “Ini Medan, bung. Bola boleh lewat, anda jangan”. Kalangan birokrat dan jajaran pemerintahan pun punya makna yang bagus, “Ini Medan, bung. Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah”, dan masyarakat luas pun punya makna yang cukup populer, “Ini Medan, bung. Semua Urusan Melalui Uang Tunai”.
Medan adalah kota bisnis yang dinamis yang kalau di kota lain orang menyebut persaingan dengan sebutan yang halus –“persaingan bisnis” tapi orang Medan punya istilah yang lebih lugas dan terbuka–”perang bisnis”. Persaingan itu sama dengan perang dan harus menang. Salah satu bisnis yang “blue ocean” nya masih cukup luas adalah bisnis telekomunikasi, yang menurut Menkominfo adalah salah satu bidang bisnis yang tidak ikut menyumbang inflasi. Banyak operator telekomunikasi baru yang terjun ke bisnis telekomunikasi dan secara perlahan-lahan mengusik “kenyamanan” operator telekomunikasi incumbent, PT. Telkom. Telkom Medan pun meradang dengan masuknya pesaing-pesaing baru ke kota Medan dan secara terbuka membuat pesan yang jelas dan lugas “Ini Medan, bung, teritoriku. Permisi dulu dong…!”.
Multi makna dan pesan tersebut sebenarnya juga ada di kota manapun di Indonesia cuma orang Medan berani buat jargon agar lebih tegas dan beridentitas. Jargon tersebut tidak hanya dipakai untuk hal-hal yang kesannya negatif tetapi juga bisa untuk hal yang positif. Begitu ada pelajar SMA asal Medan yang meraih medali olimpiade Fisika/Kimia atau lainnya, orang Medan dengan bangga juga ngomong “Ini Medan, bung. Siapa dulu dong gurunya”. Begitu PSMS berhasil keluar sebagai juara liga sepakbola Indonesia, pasti muncul teriakan “Ini Medan, bung. Ingat bola ingat Medan”.
Sudah kodrat barangkali kalau manusia lebih cepat mengingat hal-hal yang negatif dibandingkan yang positif. Jadilah orang-orang luar Medan memaknai jargon “Ini Medan, bung !” lebih cenderung ke arah negatif sama dengan makna jargon tersebut pada saat dimunculkan tahun 1965 . Akibatnya, ada orang-orang yang menolak dimutasikan instansi nya ke Medan dan malah ada perusahaan yang merasa takut membuka kantor cabang di Medan. Sayang sekali, padahal Medan sudah berubah lebih ramah. Ini dinyatakan oleh orang-orang yang di mutasikan ke Medan dan menjumpai dan mengalami hal-hal yang sangat berbeda dengan bayangannya pada saat mau dipindahkan ke Medan. “Ternyata Medan sama saja dengan kota-kota lainnya”, begitu kata mereka.
Kini tugas orang Medan untuk secara perlahan-lahan mengubah citra negatif dari jargon “Ini Medan, bung !”. Biarlah jargon bagus itu tetap hidup menjadi ciri khas dan kebanggaan orang Medan, tapi kemasannya perlu dibuat lebih lembut dan manusiawi. Ingin rasanya ketika berkunjung ke Medan via udara dan mendarat di bandara Polonia disambut oleh gadis-gadis cantik dengan seikat bunga dan seraya tersenyum menyapa semua penumpang, “Ini Medan, bung. Kami siap melayani anda”.
Ciihuuii……………
@anz