Anzoes’s Weblog

Membaca itu baik tapi akan lebih baik lagi kalau bisa menulis agar dibaca orang lain, berbagi.

Si gondrong Bercelana Abu-abu

Ditulis oleh anzoes di/pada September 11, 2008

Kesasar di Kota Kelahiran

 

Saya celingukan di Jl. Diponegoro di depan kantor CPM menjelang sampai di jembatan Sungai Bah Bolon, nggak tahu arah sekolah SMA Budi Mulia yang akan saya tuju. Saya berdiri sendirian lagi terburu-buru untuk menuju sekolah tersebut. Daripada terlambat sampai di sekolah saya cegat saja beca dan langsung naik tanpa peduli lagi berapa ongkos yang disebut si abang beca. Beca besar khas Siantar, bodynya sebesar Harley Davidson dan suaranya juga khas dug..dug…dug..dug…..

 

Saya belum pernah naik beca Siantar sendirian dan tidak tahu tarif beca untuk jarak tertentu. Naik saja dululah, jangan sampai terlambat. Hari ini memang saya akan ikut test masuk SMA RK Budi Mulia Pematangsiantar makanya saya tidak boleh terlambat. Kalau terlambat dan tidak diperbolehkan ikut test habislah harapan saya masuk sekolah favorit ini. Terlalu lama rasanya beca sampai di sekolah dan begitu sampai di komplek sekolah untung saja test belum dimulai, lega rasanya.

 

Itulah awal kisah saya bersentuhan dengan SMA RK Budi Mulia Pematangsiantar yang pada tahun 70 an cukup populer di Siantar, Simalungun dan bahkan di Sumatera Utara terbukti dengan murid-muridnya yang datang dari berbagai kabupaten di Sumatera Utara. Pagi itu, pertengahan tahun 1979 saya baru tiba di Siantar setelah menempuh 1 jam perjalanan dengan bus dari Parapat, tempat tinggal saya. Saya turun di Simpang Empat, dan itu tadi– saya celingukan sampai ke arah kota dan sampai di depan kantor CPM saya numpang tanya ke orang di pinggir jalan dan menunjuk ke arah Selatan. Pelajaran pertama yang saya dapat pada saat saya mau mulai merantau dan mandiri adalah “Jangan malu bertanya”.

 

Demi melihat jarum jam yang sudah mendekati jadwal test saya segera menaiki beca, takut terlambat. Di kemudian hari saya tahu ternyata dari Simpang Empat ke SMA RK Budi Mulia dekat-dekat saja, bila ditempuh jalan kaki selama 15 menit juga sudah sampai dan saya juga merasa sudah dikerjai oleh si abang beca, koq jarak sedekat ini dulu nyampenya koq lama ? Apa diputar-putar dulu baru diarahkan ke Jl. Sibolga supaya ongkosnya bisa tinggi ? Ah, malu aku–apalagi saya kelahiran Siantar dan merasa anak Siantar–koq bisa kesasar di Siantar ? Sakitnya tak seberapa, malunya ini..hahaha..

Pelajaran kedua adalah “walaupun kesasar tapi jangan tunjukkan tampang lagi kesasar”.

 

Setelah selesai test saya kembali ke Parapat. Dengan berjalan kaki ke Simpang Empat saya cegat bus arah Parapat dengan beberapa teman yang ikut test yang juga pulang ke Parapat. Ternyata kami dari Parapat ada 4 orang– saya, Alamson, Douglas, dan Halasan yang semuanya tentu saja masih satu sekolah di satu-satunya SMP di Parapat. Ada teman rupanya– tidak kesasar lagi dong. Besoknya kami kembali ke Siantar untuk melihat hasil test dan syukurlah kami ber empat lolos semua, senang rasanya. Senang dan bangga karena masuk sekolah ini harus bersaing dan menyisihkan lulusan SMP di Siantar dan di kota-kota lain.

 

 

Sekolah Baru

 

Dan akhirnya saya akan kembali ke kota Siantar, kota tempat saya dilahirkan 16 tahun yang lalu. Saya lahir di Siantar pada tahun 1963 dan pada tahun 1968 diungsikan bapak ke kampung kakek/nenek di Sirungkungan Haranggaol karena keamanan di sekitar kota Siantar saat itu kurang kondusif. Saya tinggalkan masa balita saya di Jl. Kesatria di depan pabrik rokok STTC. Seterusnya keluarga kami berpindah-pindah mengikuti kepindahan tugas bapak di kota kecamatan Tanah Jawa dan terakhir di kota Parapat, tidak jauh dari kota Siantar. Sepanjang waktu tersebut kami sekeluarga masih sering ke Siantar karena memang family banyak yang bertempat tinggal di kota ini. Apabila sekarang saya kembali ke Siantar sebagai anak kost yang terpisah dari orangtua saya merasa sah-sah saja menyebutnya bahwa saya sedang merantau, merantau ke kota kelahiran. Hahahaha……..malu-maluin aja..

 

Alamat lengkap sekolah baruku ini adalah Jl. Sibolga No. 21. Jalan Sibolga pendek saja jaraknya, mungkin sekitar 400 meter saja dari ujung ke ujung. Ujung yang arah Simpang Empat mentok dipersimpangan Jl. Pane dan Jl. Karo dan ujung yang satu lagi mentok di persimpangan Jl. Sudirman dan Jl. Marihat. Komplek sekolah persis dipertengahan Jl. Sibolga dibelakang gedung Susteran, Pastoran, dan gereja. Begitu masuk ke arah belakang gereja ternyata tidak hanya ada gedung SMA Budi Mulia akan tetapi masih ada gedung sekolah bertingkat– ada SD, ada SMP, dan ada STM. Formasi gedung sekolah membentuk huruf O dan ditengah adalah tanah lapang luas, dipakai untuk senam, olahraga dan juga upacara bendera. Gedung SMA menghadap arah Utara, di sebelah kirinya adalah STM Cinta Rakyat, di sebelah kanan SMP Cinta Rakyat dan didepannya di seberang halaman luas itu adalah SD Cinta Rakyat. Dinding gedung sekolah tidak diplester semen, hanya terlihat bata merah yang tersusun rapi.

 

Salah satu ciri khas komplek sekolah ini adalah pohon tinggi dan besar tepat di belakang gereja–di depan gedung sekolah STM Cinta Rakyat, tempat berteduh dari panas matahari apalagi setelah capek berolahraga. Awal tahun 2008 ini saya ke Siantar pohon ini masih berdiri gagah, sama gagahnya sewaktu pertama saya lihat 29 tahun yang lalu. Pohonnya menjulang tinggi melewati ketinggian atap gereja dan juga gedung bertingkat sekolah. Tapi hati-hati berteduh di bawah pohon tua ini, disamping rantingnya bisa patah dan jatuh menimpa orang di bawah juga banyak burung yang hinggap di pohon dan membuang kotoran–yang kotorannya bisa saja mengenai baju, apalagi kalau baju baru–sayang deh.

 

 

Gondrong dan Seragam Baru

 

Hari pertama masuk sekolah tentu saja dengan seragam baru–bukan hanya baru bahannya akan tetapi beda warna dan modelnya, beda dengan seragam SMP yang putih-putih dan masih pakai celana pendek. Ini dia seragam kebanggaan SMA RK Budi Mulia Pematangsiantar. Baju putih dan celana panjang warna abu-abu, atau rok abu-abu untuk siswi. Disebut kebanggaan karena seragam tersebut memang tampil beda dengan seragam sekolah SMA lainnya di kota Siantar yang masih pakai baju putih dan celana/rok putih.

 

Pagi-pagi saat berangkat ke sekolah dimana jalanan ramai dengan anak sekolah yang berangkat ke sekolah dengan jalan kaki maka warna khas abu-abu ini menjadi penanda sebagai siswa SMA Budi Mulia. Keren. Setelah beberapa hari masuk sekolah saya baru sadar bahwa ternyata ada lagi ciri khas siswa SMA Budi Mulia yang di sekolah lain pasti dianggap tabu– berambut gondrong. Saya lihat kakak kelas 2 dan kelas 3 koq banyak yang berambut gondrong ? Apa tidak dilarang ? Betul sekali dugaan saya, ternyata urusan rambut bukanlah urusan sekolah. Mau gondrong silahkan, tapi prestasi juga harus kinclong, kira-kira begitu mungkin slogan sekolah baruku ini. Gondrong tapi kinclong. Pelajaran ke tiga di perantauan, “jangan menilai orang dari penampilannya saja”.

 

Mumpung tidak dilarang saya juga jadi ikut berambut gondrong, rambut lurus saya biarkan memanjang– tidak sampai tergerai dibahulah , ikut bergaya. Nggak tahu apakah cocok atau tidak untuk tampilan saya tapi yang penting bisa tampil beda. Beda dengan anak sekolah lain. Yang jelas saya bangga dengan ke-beda-an ini. Kalau sepulang sekolah jalan-jalan ke kota– Jl. Sutomo masih memakai celana abu-abu dan tentu saja dengan rambut gondrongnya seolah-olah mau ngomong sama orang-orang yang lalu lalang, “Ini lho, anak Budi Mulia.” Wah, sok nih…..

Yah, itulah anak muda–si gondrong bercelana abu-abu. Sok, nekat, tampil beda.

 

Disamping urusan seragam dan rambut, saya merasa suasana yang jauh berbeda apalagi bila dibandingkan dengan sekolah saya di SD dan SMP. Di sekolah SD dan SMP latar belakang siswa 99% dari suku Batak jadi sangat masuk akal kalau bahasa antar teman sekolah tetap saja pakai bahasa Batak. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional terdengar hanya pada saat guru mengajar di depan kelas, selebihnya– aha hurrooa…..hahahaha…

 

Di sekolah baruku ini boleh dikatakan 80% siswanya masih dari Batak dan 20% dari keturunan Tionghoa, teman baru yang tidak pernah saya temui di SD dan SMP. Ada juga satu dua dari suku lain diluar Batak dan Tionghoa. Pergaulanpun makin luas dan penggunaan bahasa makin beragam. Bahasa Batak oke dan bahasa Indonesia pun oke cuma masih perlu diperbagus, diperhalus– yang sebelumnya logatnya marbatu-batu diperhalus jadi marpasir-pasir. Jangan begitu bah.. ! Hahahaha………..

Pelajaran ke empat “banyak merantau pasti banyak teman”.

 

Seragam, rambut, bahasa, dan pergaulan merupakan pengalaman baru yang saya dapatkan dari lingkungan sekolah dan menjadi komplit apabila dipadu dengan keseharian saya sebagai anak kost. Anak pertama dari 5 bersaudara yang biasanya nyuruh-nyuruh adik di rumah kini melakukan segala sesuatu secara mandiri. Memasak sendiri, mencuci sendiri, menyetrika sendiri dan mengelola keuangan sendiri. Pekerjaan yang jarang malah hampir tidak pernah saya kerjakan selama di rumah orangtua kini menjadi pekerjaan yang rutin dikerjakan setiap hari. Masakan gosong soal biasa, cucian direndam rinso dan lupa dicuci sampai bau juga pernah, setrika panas diletakkan di atas kain dan ditinggalkan sebentar sampai terbakar juga pernah. Uang belanja kiriman orangtua ludes sebelum waktunya juga biasa dan diatasi dengan pinjam dari sesama anak kost.

 

Kalau air PAM mampet jalan kaki 500 meter ke pinggir sungai Bah Bolon ada mata air yang airnya bening, mandi disana. Sebelum sampai di mata air jangan lupa teriak “booaa..!!” sebagai tanda kepada kaum wanita kalau ada yang lagi mandi disana. Ntar dikira ngintip, berabe. Kalau ada sahutan berarti harus menunggu. Antri dong…!

Pelajaran ke lima “Mau mandiri ? Silahkan merantau dulu”

 

 

Pengaruh Lingkungan

 

Belajar mandiri dan berprestasi, itulah yang mau saya raih di Siantar selama 3 tahun sekolah di SMA Budi Mulia. Kemandirian ternyata lebih dominan karena dipaksa oleh lingkungan. Ditempa situasi di tempat kost, mau tidak mau harus bertindak dan bersikap mandiri–tidak boleh cengeng. Sementara untuk berprestasi di sekolah harus “memaksa” diri, tidak boleh terpengaruh lingkungan negatif. Kalau mau mandiri ternyata dominan karena dipaksa lingkungan, untuk berprestasi malah tidak boleh terpengaruh lingkungan, lingkungan negatif. Harus pandai-pandai menyiasati yang satu ini–lingkungan.

 

Untuk tercapainya suasana yang baik untuk belajar pada awal semester 2 saya memutuskan untuk pindah kost ke rumah yang lebih bersih dan lebih besar, punya kamar tersendiri berdua dengan teman dan dilengkapi dengan meja belajar di kamar. Beda dengan rumah pertama dimana tempat tidur yang ditiduri berempat menyatu dengan dapur dan meja makan berubah fungsi jadi meja belajar kalau tiba saatnya belajar. Belajar ramai-ramai dalam satu meja dari sekolah yang berbeda malah lebih banyak ngobrolnya.

 

Saya juga minta tambahan uang belanja beberapa ribu rupiah kepada orangtua karena saya tidak mau lagi disibukkan dengan urusan berbelanja kebutuhan dapur dan juga memasak serta mencuci alat alat masak. Mumpung orangtua lagi mampu untuk menambah beberapa ribu rupiah, kalau tidak mampu apa boleh buat. Saya bayar makan saja supaya waktu dan konsentrasi belajar lebih baik. Untungnya Soter, teman sekamar saya yang juga siswa di SMA Budi Mulia punya pikiran dan niat yang sama dengan saya. Lampu neon yang menggantung di langit-langit kamar kami turunkan dan pindahkan tepat di atas posisi meja belajar. Klop deh.

 

Suasana rumah dan kamar sudah mendukung untuk kegiatan belajar tinggallah menyiasati lingkungan sekitar. Semua rumah disepanjang Jl. Toba I tempat kos saya yang baru, diisi banyak anak-anak kost malah dari beberapa rumah saja di sekitar rumah kost saya kalau dikumpulkan bisa membentuk 2 team sepakbola, ramai. Setiap sore pasti ngumpul-ngumpul di warung di pojok jalan, ngobrol dan gaul. Atau main sepakbola di halaman sekolah di Jl. Toba II dan kadang main bulutangkis di salah satu halaman rumah, kalau tidak ada angin.

 

Di warung pojok ini saat awal semester 2 saya mulai belajar merokok. Beberapa kali coba dihentikan ternyata gagal karena terpengaruh lingkungan pergaulan anak kost dimana semua teman merokok, menjadi aneh kalau ada yang tidak merokok–dianggap bukan laki-laki. Sialan… !

Pelajaran ke enam “Lingkungan sangat berpengaruh untuk sukses tidaknya cita-cita”

 

Pengaruh lingkungan kost boleh dianggap bisa saya kendalikan walaupun sudah terkena candu rokok juga. Bagaimana dengan lingkungan sekolah ? Gampangkah ? Saya tidak mau hanya sekedar naik kelas dan lulus. Saya ingin punya catatan prestasi di sekolah ini yang ditunjukkan dengan nilai rapor yang bagus dan dapat ranking 3 besar umum. Penulisan ranking dalam raport memang untuk kategori umum, tidak ada ranking per kelas. Kalau dapat ranking 3 berarti juara 3 dari 4 kelas jurusan IPA. Target yang saya benamkan di benak saya dalam-dalam.

 

Ada juga keraguan untuk mencapainya. Terbukti selama kelas 1 dan kelas 2 saya tidak pernah berhasil mencapai ranking 3. Ada trauma untuk belajar lebih keras karena pengalaman pada semester 1 pernah jatuh sakit dan opname di rumah sakit selama 2 minggu karena sakit typus. Kata orang orang kalau berpikir terlalu keras bisa sakit typus.Dan ditambah lagi dengan komentar teman-teman sekolah yang mengatakan bahwa sulit mengalahkan teman-teman Tionghoa yang pintar-pintar dan memang selalu langganan 3 besar. Ah coba dulu, masa’ nggak bisa ? Kalau mereka gondrong saya juga gondrong, kalau mereka bercelana abu-abu saya juga bercelana abu-abu. Sama koq, sama-sama si gondrong bercelana abu-abu. Hahahaha……………….

 

Saya amati cara belajar teman saya yang langganan ranking 3 besar ternyata sehabis sekolah mereka masih ikut les mata pelajaran di luar sekolah. “Pantas,” kata saya dalam hati. Begitu naik ke kelas 3 segera saya minta ijin dan sekalian minta biaya les sama orangtua. Saya ingin ikut les mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Mata pelajaran utama di jurusan IPA. Belajar di kamar kost juga lebih serius, sangkin seriusnya sampai teman-teman sekolah yang kost di rumah lain ikut numpang belajar di rumah kost saya, biar ketularan serius katanya. Ada-ada saja.

Pelajaran ke tujuh “Jangan ragu, maka sukses bisa diraih”

 

 

Sang Juara

 

Ketika pembagian raport semester ganjil semua siswa disuruh baris dulu di depan sekolah. Lengkap kelas 1, 2 dan 3. Siswa yang ranking 1,2, dan 3 dipanggil mulai dari kelas 1 dan 2 kemudian kelas 3 dari masing-masing jurusan IPA dan IPS. Tiba giliran untuk pemanggilan siswa yang ranking dari kelas 3 IPA, jantung saya berdegup lebih kencang, dipanggil..tidak….dipanggil…tidak. Begitu nama saya dipanggil sebagai ranking 3 saya masih ragu, karena ada teman saya dari kelas berbeda yang namanya persis sama dengan nama saya. “Jangan-jangan dia,” pikir saya. Tapi semua teman dalam barisan menoleh ke saya dan tanpa ragu saya langsung saja maju dan naik ke lantai 2. Luar biasa.

 

Saya bersama teman yang ranking 1 dan 2 berdiri di teras lantai 2 menghadap teman-teman yang berbaris di bawah, di halaman sekolah. Jantung saya masih berdegup kencang, kaget, senang, bangga. Luar biasa. Saya menerima hadiah yang dibungkus kertas sampul buku warna coklat, dugaan saya isinya adalah beberapa buku tulis. Saya tidak peduli isinya. Berdiri saja disini, di depan teman-teman sekolah sebagai siswa yang berprestasi sudah cukup bagi saya. Thank’s God !

 

Begitu pulang sekolah saya bergegas pulang ke rumah kost dan berkemas hendak pulang ke Parapat untuk menjalani liburan sekolah. Tidak sempat ganti celana abu-abu saya sambar saja tas pakaian yang sudah saya isi dengan hadiah ranking 3 dan buku rapor –sekalian bawa kain kotor..hehehehe…., jalan kaki ke Simpang Empat cegat oplet arah ke Simpang Dua dan berhenti di Kelapa Kuning, pemberhentian bus tujuan Parapat.

 

Perjalanan yang membosankan sekaligus menyenangkan. Membosankan karena saya tidak sabar lagi untuk menyampaikan berita gembira ini kepada bapak dan ibu dan menyenangkan karena saya membawa oleh-oleh yang tidak biasa, sebungkus hadiah juara. Untuk membunuh rasa bosan diperjalanan dan menikmati dinginnya hawa pebukitan Bukit Barisan di Harangan Ganjang saya hisap rokok dalam-dalam di dalam bus–nikmat. Si gondrong bercelana abu-abu sedang merokok, jangan diganggu. Hahahaha…………..

 

Sesampai di rumah di Parapat langsung saja saya sodorkan bungkusan bersejarah itu kepada bapak dan ibu, “Pak, Mak, saya dapat juara 3, ini hadiahnya.” Benar, isinya adalah setengah lusin buku tulis tebal. Bapak dan ibu pasti senang dan bangga, mungkin lebih bangga dari saat saya mendapat juara 3 di kelas 6 SD dan kelas 3 SMP. Koq juara 3 terus ? Hahahaha…..nggak apalah yang penting dapat medali. Juara 3 dapat perunggu khan ?

 

Semester terakhir di SMA mulai dijalani, sama dengan semester-semester sebelumnya tetap sibuk dengan PR dan ulangan harian. Tiap hari ada PR dan tiap hari juga ada ulangan harian. Les diluar sekolah tetap saya jalani sebagai persiapan tambahan untuk EBTA dan juga seleksi masuk perguruan tinggi. Di tempat les memang materi lebih fokus membahas soal-soal. Walaupun saya menduga bahwa saya akan ikut program Perintis 2 tetap saja saya belajar serius.

 

 

Bebas Testing

 

Menjelang pembagian ijazah datang pemberitahuan dari sekolah bahwa saya terdaftar untuk ikut program Perintis 2. Program Perintis 2 adalah program bebas testing masuk perguruan tinggi yang berlaku secara nasional dan tinggal pilih apakah masuk ke USU, UI, IPB, ITB, UGM dan universitas negeri lainnya. Cita-cita saya sejak memilih jurusan IPA di SMA adalah ingin menjadi insinyur di bidang teknik khususnya Teknik Industri. Saya lihat UI, ITB dan UGM hanya membuka jurusan MIPA yang bagi saya kurang menarik. Saya kurang tertarik masuk USU karena keinginan merantau lebih jauh, kepalang merantau sekalian saja jauh. Akhirnya saya pilih IPB Bogor yang membuka jurusan ilmu terapan untuk peserta Perintis 2. Karena tidak ada yang memilih USU maka kesempatan bebas testing masuk USU ditawarkan ke teman-teman yang rankingnya dibawah ranking 3. Beberapa teman sayapun masuk USU tanpa melalui testing.

 

Kenapa saya tidak jadi kuliah di IPB dan kenapa akhirnya saya masuk USU ? Wah, ini ceritanya panjang dan menarik tapi tidak dituliskan disini karena diluar scope Si gondrong Bercelana Abu-abu.

Pelajaran ke delapan “Jangan lengah, selalu siapkan langkah antisipasi. Buat Plan A, B, dst”

 

Tiba juga waktunya bagi saya dan teman-teman untuk meninggalkan sekolah kebanggaan kami ini. Pengumuman EBTA semua lulus. Bravo SMA Budi Mulia. Tidak percuma kami semua setiap pagi datang ke sekolah membawa beban berat, buku-buku textbook yang tebal dan berat. Setiap hari dijejali PR dan setiap hari ulangan. Dan karena setiap hari berkomunikasi pakai bahasa Indonesia dengan teman-teman lain suku di sekolah maka kini logat Indonesia saya tidak lagi marbatu-batu tapi sudah diperhalus menjadi mar pasir-pasir. Logat Batak yang kental sudah agak mencair menjadi lebih encer. Bah fuang….hahahaha………..

 

 

Kisah Kasih Masa SMA

 

Kulit putih, baby face, tinggi badan cukuplah untuk persyaratan masuk Akabri, badan agak kurusan, rambut gondrong, status anak kost pergi pulang sekolah jalan kaki. Penampilan saya yang berbeda jauh dengan gambaran cowok-cowok ideal di cerpen remaja yang selalu digambarkan bertubuh tinggi, atletis, macho, dan pergi pulang sekolah selalu dengan kenderaan, kalau tidak dengan roda 2 pasti dengan mobil. Minder saya kalau dibandingkan dengan tokoh-tokoh cerpen itu, apalagi saya cenderung pemalu dan pendiam, bicara seperlunya, sementara si tokoh digambarkan pandai bicara dan merayu dan juga pintar.

 

Kalau si tokoh cowok dalam cerpen digambarkan selalu berhasil merebut hati kembang sekolah yang juga selalu digambarkan cantik bukan main memang wajar karena modal sudah komplit seperti itu, lha saya dengan modal pas-pas an bisa dapat apa ? Udah rambut gondrong tapi jarang disisir–disisir pakai jari saja, berpenampilan semaunya, cuek. Satu-satunya modal si tokoh yang juga saya miliki adalah kami sama-sama blasteran. Kalau si tokoh blasteran Indonesia dengan bule, saya blasteran Tapanuli dan Simalungun. Sama khan ? Hahahaha……………

 

Dalam cerpen remaja kisah kasih masa SMA selalu digambarkan seru dan romantis tapi pada kenyataannya di SMA tempat saya sekolah ini kelihatan biasa-biasa saja. Antar cowok dan cewek hubungannya kompak, berteman biasa. Kalaupun ada satu dua yang punya hubungan khusus juga tidak terlalu jadi perhatian siswa lain. Mungkin karena semua siswa sudah sibuk dijejali dengan PR dan ulangan harian ya ? Apalagi saya yang suka membaca, lebih cocok jadi kutu buku daripada kutu asmara.

 

Beruntung saya masuk ke sekolah dengan suasana yang didominasi kegiatan belajar seperti ini. Saya memang tidak ambil peduli dengan kisah kasih seperti itu, masih SMA, masih muda dan apalagi dengan wajah saya yang baby face malah kelihatan terlalu muda untuk pacaran. Rasa suka adik kelas yang dialamatkan pada saya terbentur pada hati yang keras membatu. Fantasi tentang lawan jenis saya biarkan saja datang mengganggu konsentrasi belajar, sewajarnya dan memang indah dan nikmat. Kalau berkhayal saja sudah nikmat apalagi kalau betulan pasti lebih nikmat ya ? Betul, nantinya setelah kuliah baru saya rasakan. Pacaran, memperhatikan dan diperhatikan– berbagi.

 

Belajar. Kata yang satu ini menjadi satu-satunya tujuan saya ke Siantar. Urusan fantasi panah asmara biarlah menjadi bunga-bunga masa remaja di SMA. Sekali-sekali saya membantu teman mengarang surat cinta dan sekalian dengan puisi cinta. Buah dari berkhayal memang saya jadi mahir menulis surat cinta dan puisi cinta, membantu teman yang kesulitan menyatakan cinta secara langsung. Kemahiran yang juga saya manfaatkan nantinya untuk menjerat hati cewek semasa kuliah di Medan. Dan terakhir, “korban” jeratan dari surat-surat cinta dan puisi cinta ini adalah ibu dari anak saya sekarang– istri tercinta.

Terima kasih pak pos !

Pelajaran ke sembilan “Maksimalkan kemahiran dan bakat yang ada, jangan disimpan”

 

Terima kasih kepada Bruder GJW Peter, rohaniawan berdarah Belanda yang bertugas sebagai Kepala Sekolah dan juga guru Agama, pak Sudarmono wakil kepala sekolah yang juga guru Kewargaan Negara/PMP, pak Gabe guru Matematika yang mengajar sistematis dan perokok berat, pak Saragih guru Fisika, pak Nainggolan guru Kimia, pak Pilum (maaf pak, lupa marganya) guru Biologi, pak Tambun guru Bahasa Jerman–Ser gut, bu Simatupang dan pak Sinaga guru Bahasa Indonesia, pak Sitinjak guru Bahasa Inggris, pak Silaen guru Kesenian, pak Tindaon guru Olahraga, pak Severinus Aja guru Agama dan juga bu Katrin pegawai administrasi serta pegawai lainnya– yang telah turut berjasa membimbing dan mengajar saya sehingga bisa melewati masa-masa SMA yang penuh perjuangan. Bapak dan ibu semua adalah pahlawanku, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Selamat tinggal celana abu-abuku.

Pelajaran ke sepuluh “Jangan pelit mengucapkan terima kasih”.

 

@anz

 

NB :

Sejak tahun 1998 sampai dengan 2005 saya bertugas di P. Siantar dan hampir tiap hari singgah di Jl. Sibolga No. 21, almamater SMA RK Budi Mulia, antar jemput anak saya yang sekolah SD Cinta Rakyat di gedung sekolah tempat saya sekolah dulu. Karena kini gedung sekolah SMA RK Budi Mulia sudah pindah ke gedung baru di Jalan Marihat (arah ke Tanah Jawa). De ja vu.

Pohon tingginya masih ada, suasana ramai dari anak-anak SD dan SMP, seragam putih-merah dan putih-biru. Tidak ada lagi seragam putih abu-abu.

 

 

 

 

 

 

 

 

12 Tanggapan ke “Si gondrong Bercelana Abu-abu”

  1. butars berkata

    Berbahagialah anda mempunyai masa lalu yang indah, terus lagi lae dengan cerpen menarik lain, selamat berkarya.

  2. anzoes berkata

    Makasih lae. Masa lalu tidak semua indah waktu dijalani, tapi begitu dikenang jadi indah juga. Rencananya memang akan buat kisah nyata pribadi yang menarik. Ditunggu saja. Lama-lama kalau dikumpul bisa jadi otobiografi ya ? Hehehehe…..Horas !

  3. parjalang berkata

    jadi cerita lae tuh terlalu melo, ga cool. kepanjangan dan membosankan. emangnya bahasa indonesia lae brapa dlu di BM? blum ada ya pak ogut dulu ma lae?

  4. toilet berkata

    stuju ma parjalang, kuno critanya kan…
    ga bsa nulis kali…
    sok ngaku alumni lg..
    cuihhh.
    lu sama menjijikkannya ama nick gwe “toilet”

  5. girlycute22 berkata

    Jgn berlebihan ah… dya jg kan manusia.
    emang sih critanya rada karya anak es de gitu..
    tpi so what… kita kn sama2 alumni BM

  6. anzoes berkata

    hahahaha….arrrrooaaa….mau melo urusanku. Lae mau bosan urusan lae lah itu.

  7. aden berkata

    pantas cerita industri anak ti rupanya bang kapan main ke ti ?????? gambar depannya aja yg keren isinya bulshit

  8. anzoes berkata

    Aden ! Pakai kaca mata dulu dong, gambar depan jelek begini koq dibilang keren. Keren apanya ? Hahahahaha………….

  9. abnernapi berkata

    Lae Anzoes, salam buat..mu, berarti waktu anda mau masuk sekolah SMA Bud Mulia, saya masih sekolah di SMP Cinta Rakyat.. Saya juga alumni SMA Budi Mulia 1983…. Bergabunglah di Website Budi Mulia, karna saya lihat nama Lae belum ada… Terimakasih…..

  10. anzoes berkata

    Iya lae, saya sudah buka-buka website itu dan dari situ saya dapat informasi akan ada Pesta Emas 50 tahun. Ingin hadir tapi sayang sekali waktu saya tidak pas. Ok, mauliate.

  11. uli simtog berkata

    lucu dan menarik ceritanya adalagi ngak ya

  12. anzoes berkata

    ada, silahkan akses http://anzoes.wordpress.com. Selamat membaca

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>