Luar Negeri Rasa Indonesia
Ditulis oleh anzoes di/pada Oktober 7, 2008

Libur lebaran tahun 2008 ini kami sekeluarga sepakat pergi ke Malaysia mengikuti paket perjalanan yang ditawarkan biro jasa travel Afamosa Resort Malaysia. Kami pilih paket 4 hari 3 malam lengkap dengan paket kunjungan ke beberapa tempat wisata seperti di Malaka, Kuala Lumpur dan Genting Highland serta di lokasi Afamosa Resort sendiri. Menurut brosur banyak hiburan menarik di Afamosa Resort seperti di Animal World, Water World, dan Cowboy Town. Kesanalah rencananya kami bertiga pergi, saya, istri, dan anak kami Andre. Suasana semakin ramai karena ada teman sekantor lengkap sekeluarga 5 orang juga mengambil paket yang sama. Berarti kami ber delapan. Pasti seru deh….
Namanya liburan sekalian ingin menikmati suasana perjalanan maka kami memilih tranportasi ferry Dumai – Malaka, yang akan ditempuh selama 2,5 jam dan untuk biaya masih relative murah- -Rp. 460.000 per orang pulang pergi. Kami yang berpassport keluaran Riau juga bebas fiscal kalau masuk Malaysia. Pantas saja banyak orang Riau yang bolak-balik ke Malaysia.
Kamis 2 Oktober
Pukul 12 siang ferry Indomal Express mulai bergerak meninggalkan dermaga Dumai, terlambat 1 jam dari jadwal- -jam karet. Padahal kami sudah tiba di dermaga pukul 10 karena disarankan seperti itu, tiba 1 jam sebelum jam keberangkatan untuk pemeriksaan imigrasi. Begitu ferry bergerak kamipun langsung sibuk melahap nasi bungkus yang sudah kami siapkan. Asyik, makan nasi bungkus sambil digoyang ombak Selat Malaka dan masih sambil dihibur lagu Batak yang diputar di pesawat TV ferry. “Pak, jauh-jauh ke Malaysia koq dengar lagu Batak juga ?” kata anak kami Andre. Kami senyum-senyum saja.
Semua seat ferry rasanya penuh karena penumpang kelihatan berjejal, mudah-mudahan jumlah penumpang tidak melebihi ketentuan- -berbahaya. Apalagi ingat kapal kayu yang ditumpangi TKI yang tenggelam beberapa hari sebelumnya selepas pelabuhan Port Klang Malaysia, aduh…jangan deh. Tak terasa perjalanan 2,5 jam ferry sudah merapat di dermaga Malaka dan setelah melewati pemeriksaan imigrasi kami segera naik minibus yang disediakan Afamosa Resort yang datang menjemput kami. Bang supir masih tersenyum padahal dia sudah kelamaan menunggu. Bukan salah kami, ferrynya yang terlambat berangkat kan ?
Afamosa Resort yang kami tuju ternyata masih harus ditempuh selama 1 jam perjalanan arah Kuala Lumpur. Jalan mulus dan lebar. Tiga jalur arah ke Kuala Lumpur dan 3 jalur juga arah sebaliknya. Kami tiba di Afamosa Resort sudah sore dan langsung registrasi di recepcionist condo. Ada juga villa dan hotel tapi sesuai paket kami dapat jatah condominium. Lha, petugas recepcionistnya kalau dilihat dari nama dan marganya ternyata dari Sumatera dan setelah ditanya ternyata kampungnya di pulau Samosir di tengah-tengah Danau Toba- -halak hita. “Dre, kita lagi di Malaysia atau Indonesia ya ?” tanya saya menggoda Andre. Sejak naik ferry sampai tiba di kamar condo kami belum sepatah kalimatpun mengucapkan bahasa Inggris. Semua masih rasa Indonesia.
Malamnya dengan shuttle bus tanpa dinding disisi kiri-kanan kami dibawa ke Cowboy Town. Tempat hiburan yang ditata menyerupai kota-kota koboi yang biasa saya tonton di film-film koboi. Di gerbang masuk pengunjung yang ramai sudah dihibur dengan disko diiringi lagu live, salah satu lagu yang akrab di telinga saya adalah lagu dangdut “Kopi Dangdut” yang cukup popular di Indonesia. Semua petugas berpakaian ala koboi lengkap dengan topi dan sarung pistol di pinggang. Kalaupun ada pistol pasti pistol ecek-ecek. Keren deh….
Sehabis makan malam kami segera menikmati semua paket hiburan gratis yang sudah menjadi hak kami. Yang cukup menarik adalah parade karnaval yang ditutup dengan pesta kembang api dan alunan lagu “Rasa Sayange”. Cukup menghibur dan cocok untuk hiburan keluarga termasuk anak-anak. Pukul 12 malam kami diajak kembali ke condo oleh guide yang mendampingi kami. Saya lihat jam tangan saya masih menunjuk angka 11. Berarti waktu Malaysia sudah pukul 12. Sudah waktunya istirahat menikmati condo. Bobo di condo, hahahaha………..katrok.
Jumat, 3 Oktober
Untuk menikmati sarapan pagi rupanya harus naik shuttle bus dulu baru sampai di tempat sarapan di gedung Club House. Gedung hotel yang besar bertingkat dimana di lantai dasarnya ada ruang Terrace Golfer yang cocok untuk tempat sarapan karena menghadap langsung ke hamparan lapangan golf. Suasananya ramai. Kami berdelapan orang pas 1 meja. Menu sarapan cukup bervariasi dan banyak tinggal pilih sesuai selera. Selesai sarapan kami diajak ke tempat hiburan Animal World dan Water World. Setelah registrasi dan dapat gelang tanda masuk kami segera masuk ke area Animal World. Ternyata di area kebun binatang ini ada juga shuttle bus tapi dinding kiri kanan ditutup jaring kawat dan teralis demi pengamanan dari serangan binatang buas. Di stasiun shuttle dijaga 1 orang petugas cewek dan langsung menyapa kami dengan bahasa batak begitu mendengar sesama kami berbicara bahasa batak. Ya sudah, sambil menunggu shuttle kami ngobrol ngalor ngidul, dan tentu saja juga martarombo (saling tanya silsilah).
Asyik bisa langsung hadir di tengah-tengah gerombolan binatang buas, walaupun kami terkurung di dalam shuttle bus. Sedang asyik-asyiknya mengamati binatang, bus yang kami tumpangi mogok. Untungnya tidak mogok di area harimau, buaya, singa, atau beruang tapi dikandang rusa yang berbaur dengan sapi, kerbau dan binatang jinak lainnya. Wuihhh…aman deh. Selesai tour kebun binatang lanjut lagi dengan Elephant Show, Multi Animal Show, dan Bird Show. Cuma sekitar 30 menit untuk tiap show tapi sudah cukup menghibur dan menimbulkan rasa kagum.
Selesai makan siang lanjut lagi ke arena Water World menikmati kolam besar yang ditata seperti pantai dan air berombak yang menimbulkan suara riuh seperti layaknya di pantai beneran. Sayangnya saat disini turun hujan deras mengganggu suasana.
Selesai dari Water World perjalanan dilanjutkan dengan tour ke kota Malaka, kali ini dengan bus yang bersih dan ber AC dan seorang guide yang berbaju batik sebagai pemandu perjalanan. Bus hampir penuh. Ketika guide menanyakan apakah pakai bahasa Inggris atau Malaysia, penumpang kompak memilih bahasa Malaysia saja. Sepertinya peserta tour ini semuanya berasal dari Indonesia. Sang guide pun mulai bercerita sejarah kota Malaka. Ketika salah seorang penumpang iseng bertanya kepada guide tentang baju batik yang dipakainya, sang guide menjawab “Ini batik Malaysia.”
Ada banyak rute bersejarah yang disinggahi seperti Red house, gereja St. Paul, Jonker walk, museum Dermaga dan diakhiri dengan acara shoping dan makan malam di area Dataran Pahlawan dan menjelang tengah malam baru sampai di condo. Tidur yang nyenyak setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan. Sebelum tidur tidak lupa siapkan dulu jacket ke dalam ransel untuk dibawa besok ke Genting Highland.
Sabtu, 4 Oktober
Pagi ini lebih santai karena rencana tour ke Kuala Lumpur dan Genting Highland berangkat pukul 10. Pukul 8.30 kami baru sampai di Club House untuk sarapan dan setelah sarapan masih santai-santai menunggu bus keberangkatan pada pukul 10. Tepat pukul 10 ada informasi dari petugas bahwa bus ada masalah dan sedang diperbaiki dan diusahakan mencari bus pengganti. Keberangkatan ditunda menjadi pukul 12. Para peserta tour protes tapi petugas tidak bisa berbuat banyak. Kami disarankan untuk kembali ke condo dan menunggu dijemput pada pukul 12. Dengan rasa kecewa kami kembali ke condo.
Pukul 12.30 bus mulai bergerak meninggalkan Afamosa Resort menuju Kuala Lumpur. Jalannya mulus dan lebar. Ramai dengan mobil pribadi dan bus pariwisata atau “bas persiaran”. Truk dan tronton hampir tidak pernah lihat. Karena perut sudah lapar kami berhenti dulu di rest area untuk makan siang. Saya teringat dengan rest area di tol Cikampek, tempatnya hampir sama, banyak rumah makan dan banyak pilihan. Dasar perut Indonesia saya pesan nasi dan ikan lele sambal, harganya RM 4 atau sekitar Rp. 11.000. Saya amati daftar harga memang menu dan harganya sama saja dengan di Indonesia. Setengah jam disini perjalanan dilanjutkan kembali tujuan Genting Highland.
Pas memasuki kota Kuala Lumpur kami ganti bus dengan bus yang lebih baru dan bersih- -bus yang kami naiki kemarin sewaktu tour ke Malaka. Memasuki pusat kota Kuala Lumpur terlihat jelas gedung Tower Kuala Lumpur dan Twin Tower Petronas yang menjulang tinggi- -kebanggaan Malaysia. Perjalanan dilanjutkan ke Genting karena rencana tour di Kuala Lumpur dilakukan setelah dari Genting. Info dari guide
perjalanan dari Kuala Lumpur ke Genting memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sebelum sampai di puncak Genting kami mampir dulu di Goh Tong Jaya yang penuh ruko, salah satunya ruko penjualan aneka makanan yang terbuat dari coklat.
Dari jendela bus kelihatan bangunan bertingkat di puncak bukit tertutup kabut tipis, itulah Genting Highland yang akan kami tuju. Karena hawa terasa semakin dingin kami pakai jaket. Sesampai di Genting Highland hawa terasa semakin dingin menusuk. Inilah Genting Highland dengan beberapa hotel bertingkat dan arena bermain mirip Ancol Jakarta. Tapi Genting Highland lebih popular sebagai arena judi casino. Muncul rasa ingin tahu bagaimana bentuk dan suasana ruang casino. Kami bertiga mengelilingi komplek gedung asal jalan saja tanpa tujuan yang jelas. Jalan kaki tidak terasa capek karena banyak elevator. Banyak orang hilir mudik, mungkin sama dengan kami sekedar memandang dan buang-buang waktu saja. Kami jepret foto sana-sini.
Tak terasa kami sampai di jalan buntu dan ada pintu untuk masuk ke suatu ruangan, di atas pintu tertulis “Monte Carlo Casino”. Nah, ini dia yang disebut casino. Tapi mana petugas security nya ? Pintu terbuka saja tanpa daun pintu tapi pandangan ke dalam ruangan casino terhalang aquarium kaca besar berisi ikan-ikan hias. Kami bertiga nyelonong saja masuk dari pintu kecil di sisi kanan aquarium. Begitu lewat pintu ternyata dibalik aquarium sudah berdiri 2 orang security yang langsung mencegat kami. “Tidak boleh pakai kasut,” kata petugas security sambil menunjuk ke arah kaki kami. Saya baru tahu ternyata untuk masuk ruang casino tidak boleh pakai sandal dan harus pakai sepatu. Ya, sudah. Kami keluar dan melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat lain menghabiskan waktu 2 jam sesuai kesepakatan dengan guide. Hanya 2 jam kami diberi waktu di Genting ini. Kami bertiga akhirnya naik gondola berkeliling sungai buatan di sekitar gedung layaknya naik gondola benaran di Venice. Begini toh rasanya naik gondola ? Hahahaha……..
Pukul 19.15 waktu Malaysia kami selesai tour di Genting dan turun ke Kuala Lumpur lebih jelasnya ke Twin Tower Petronas. Berdiri di halaman twin tower yang tinggi rasanya menyiksa leher kalau ingin melihat puncak tower. Karena sudah waktunya makan malam kami bertiga masuk ke Suria Plasa di samping twin tower mencari food court dan ketemu di lantai 4 sudah berjejer gerai aneka makanan. Melihat gerai-gerai makanan rasanya tidak sedang berada di luar negeri karena aneka makanan hampir semuanya menu Indonesia. Begitu pesan makanan di salah satu gerai ternyata petugasnya wong Jowo dari Lamongan. Lha, koq nggak mudik mbak ? Hahahaha…………..
Kembali ke condo sudah tengah malam langsung tidur pulas. Malam terakhir karena besok pagi sudah harus ada di dermaga Malaka, kembali ke Indonesia. Kembali ke Indonesia dalam wujud geografis karena nyatanya selama berada di luar negeri yang terasa adalah nuansa Indonesia. Manusianya, bahasanya, makanannya, dan suasananya terasa masih nuansa Indonesia. Bisa jadi benar karena Indonesia dan Malaysia masih dalam satu rumpun, rumpun Melayu. Iya kan Cik ..?
Minggu, 5 Oktober
Pagi pukul 10 ferry akan berangkat ke Dumai, oleh sebab itu pagi benar kami bertiga sudah berkemas dan sarapan. Selesai sarapan diantar minibus Afamosa ke dermaga ferry di Malaka jalanan masih sepi. Pukul 9 kami sudah tiba di dermaga ferry dan setelah melewati pemeriksaan imigrasi pada pukul 9.30 kami sudah duduk nyaman di dalam ferry. Pukul 10 tepat ferry berangkat dan tiba di Dumai pukul 12.00 Wib. Perjalanan memakan waktu 3 jam mungkin karena penumpang penuh dan beban puncak ?
Perjalanan pulang ke Pekanbaru kami lebih santai karena tidak ada yang dikejar. Pukul 19.00 Wib kami sudah tiba di rumah dengan selamat. Thank’s God.
@anz









DonyIrawan berkata
nah coba akhir tahun nanti ke Samosir… pasti rasanya spt di Malaysia … hee..hee
asinaga berkata
Akhir tahun nanti memang rencana ke Samosir, makan arsik, natinombur, napinadar dan naiura. Makanan khas yang tiada duanya. Sabassss………..
Abed berkata
kok berangkatnya dari dumai, kan ada dari sungai duku ato dari bengkalis sekalian, asik donk dolanannya ..
anzoes berkata
Kepikir juga lewat Sungai Duku, tapi katanya bosan terlalu lama di ferry (9 jam). Tapi lain kali perlu dicoba jugalah. Tks