Harsh Words
Ditulis oleh anzoes di/pada Oktober 23, 2008
Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya”
adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga, saya tidak melihat
Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan.
Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan
orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya
tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping
saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,”
kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari
betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku,
“Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, ketika kesopanan
kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau
perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan
menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”
“Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu, merah muda, kuning
dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak
menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat
matanya yang basah saat itu.”
Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya
pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat
tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku. “Apakah bunga-bunga ini
engkau petik untukku?” Ia tersenyum, “Aku menemukannya jatuh dari pohon.”
“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu
Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.” Aku berkata, “Anakku,
Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu,
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.” Si kecilku berkata, “Oh,
Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Aku pun membalas, “Anakku, aku
mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang
biru.”